Gerhana Bulan Total Hiasi Ramadan 1447 H, Warga Kabupaten Sumenep Saksikan “Bulan Darah” Saat Buka Puasa hingga Tarawih
SUMENEP, teraktual co.id– Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Sumenep tahun ini akan terasa semakin istimewa. Pada pertengahan bulan suci, tepatnya Selasa, 3 Maret 2026, masyarakat akan disuguhi fenomena langit langka berupa gerhana bulan total yang bertepatan dengan waktu berbuka puasa hingga pelaksanaan salat tarawih.
Fenomena yang kerap disebut “bulan darah” ini terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus. Dalam kondisi tersebut, Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti Bumi sehingga cahaya Matahari yang biasanya dipantulkan berubah menjadi kemerahan. Saat mencapai puncaknya, Bulan akan tampak berwarna merah temaram di langit timur.
Anggota Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Ahmad Faidal, menjelaskan bahwa proses gerhana akan berlangsung cukup lama dan dapat diamati dengan jelas dari wilayah Sumenep.
“Gerhana bulan total akan dimulai pada pukul 16.49.46 WIB dan berakhir sekitar pukul 20.17.33 WIB. Di Sumenep, sebelum masuk waktu berbuka puasa, gerhana sudah berlangsung. Bahkan saat salat tarawih dilaksanakan, fenomena ini masih bisa disaksikan. Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada pukul 18.33.39 WIB,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Sementara itu, berdasarkan rilis resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gerhana bulan total tersebut dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Kabupaten Sumenep, dengan catatan kondisi cuaca cerah dan tidak tertutup awan.
“Jika cuaca mendukung, warga Sumenep dapat menyaksikan gerhana secara langsung dengan mata telanjang, bahkan sambil menikmati suasana berbuka puasa bersama keluarga,” tambahnya.
Adapun rincian waktu gerhana bulan total pada Selasa, 3 Maret 2026, adalah sebagai berikut:
Awal gerhana sebagian: 16.50 WIB
Awal gerhana total: 18.04 WIB
Puncak gerhana: 18.33 WIB
Akhir gerhana total: 19.02 WIB
Akhir gerhana sebagian: 20.17 WIB
Menariknya, saat Bulan terbit di ufuk timur, posisinya sudah berada dalam fase gerhana.
Pemandangan tersebut menjadi momen langka yang jarang terjadi, terlebih karena bertepatan dengan bulan Ramadan.
Bagi masyarakat Sumenep, malam itu diprediksi akan menjadi perpaduan antara kekhusyukan ibadah, kebersamaan saat berbuka puasa, serta keagungan fenomena alam yang mengingatkan akan kebesaran Sang Pencipta. (*)
