September 3, 2026
Beranda » Dedi Bawa 7 Gagasan Jika Terpilih Jadi Kades Jatimulya, dari Irigasi hingga Ruwat Bumi

Dedi Bawa 7 Gagasan Jika Terpilih Jadi Kades Jatimulya, dari Irigasi hingga Ruwat Bumi

0
IMG-20260903-WA0006

Teraktual.co.id||Kabupaten Bekasi – DEDI resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Kepala Desa Jatimulya, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, Rabu (02/09). Jurnalis yang juga aktif dalam organisasi profesi tersebut membawa tujuh gagasan yang akan menjadi fokusnya jika mendapat amanah memimpin Desa Jatimulya.

Tujuh gagasan itu meliputi perbaikan saluran air pertanian, penguatan ekonomi buruh tani di tengah mekanisasi, pengembangan desa wisata, pembangunan jembatan penghubung Dusun Rancamulya-Tanjung Salep, peningkatan keamanan permukiman, penguatan budaya melalui Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya, serta komitmen menjalankan kontestasi tanpa politik uang.

Dedi mengatakan, pencalonannya berangkat dari keinginan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Pengalamannya sebagai jurnalis, kata dia, menjadi bekal untuk melihat persoalan secara langsung, menganalisis akar masalah, serta mencari solusi yang dapat diterapkan di masyarakat.

“Saya mendaftarkan diri sebagai bakal calon kepala desa karena ingin mengabdikan diri kepada masyarakat. Pengalaman sebagai jurnalis juga menjadi bekal untuk melihat persoalan dan mencari solusi,” ujar Dedi.

Perbaikan Saluran Air Pertanian

Persoalan pertanian menjadi salah satu perhatian utama Dedi. Ia menilai ketersediaan air untuk lahan persawahan harus mendapat perhatian karena sektor pertanian masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jatimulya.

Dedi mendorong perbaikan saluran air menuju lahan pertanian agar penanganannya dapat menjadi prioritas, baik di tingkat pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Jatimulya memiliki potensi besar di sektor pertanian dan menjadi salah satu desa yang berkontribusi terhadap produksi padi. Karena itu, persoalan pengairan harus menjadi perhatian,” katanya.

Ia berharap perbaikan jaringan pengairan dapat menjaga produktivitas lahan sekaligus keberlanjutan mata pencaharian petani.

Buruh Tani Hadapi Dampak Mekanisasi

Dedi juga menyoroti dampak mekanisasi pertanian terhadap buruh tani. Penggunaan alat dan mesin pertanian memang dapat meningkatkan efisiensi, tetapi di sisi lain berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual.

Menurut Dedi, kondisi tersebut harus diantisipasi pemerintah desa melalui program peningkatan keterampilan. Pemerintah desa diharapkan dapat berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten hingga provinsi untuk membuka akses pelatihan dan alih keterampilan bagi buruh tani.

“Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat masyarakat kehilangan sumber penghasilan. Buruh tani perlu dibekali keterampilan agar bisa beralih ke pekerjaan lain,” ujarnya.

Dengan keterampilan baru, warga yang terdampak mekanisasi diharapkan memiliki peluang untuk masuk ke sektor pekerjaan lain tanpa kehilangan sumber penghasilan.

Kembangkan Desa Wisata

Potensi lahan pertanian juga ingin dikembangkan Dedi menjadi bagian dari sektor pariwisata desa. Ia melihat hamparan persawahan di Jatimulya dapat menjadi daya tarik apabila dikelola melalui konsep desa wisata berbasis pertanian.

Gagasan tersebut terinspirasi dari konsep Lembur Pakuan. Dedi menilai pengembangan wisata tidak harus mengubah fungsi lahan pertanian, tetapi justru dapat menjadikan aktivitas pertanian sebagai bagian dari pengalaman wisata.

“Pertanian tetap menjadi sektor utama. Tetapi bagaimana aktivitas pertanian itu bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata dan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat,” katanya.

Ia berharap konsep tersebut dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru di desa.

Jembatan Rancamulya-Tanjung Salep

Persoalan infrastruktur juga masuk dalam gagasan Dedi. Salah satunya pembangunan jembatan yang menghubungkan Dusun Rancamulya dengan Dusun Tanjung Salep.

Menurutnya, jembatan tersebut dibutuhkan untuk memperlancar mobilitas warga antardusun sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

“Pembangunan harus melihat kebutuhan masyarakat. Infrastruktur yang dibangun harus memberikan manfaat langsung bagi mobilitas dan aktivitas warga,” katanya.

Dedi menegaskan pembangunan infrastruktur desa perlu disusun berdasarkan skala prioritas dan kebutuhan masyarakat.

Permukiman Tertata Perlu Diperkuat Keamanannya

Dedi juga memberikan perhatian terhadap lingkungan permukiman di Jatimulya yang telah tertata dengan baik. Menurut dia, kondisi tersebut perlu dipertahankan sekaligus diperkuat dengan sistem keamanan dan penataan lingkungan yang lebih baik.

Untuk meningkatkan keamanan, ia menawarkan penerapan One Gate System dan pemasangan kamera pengawas atau CCTV di lingkungan permukiman.

“Untuk meningkatkan keamanan akan dilakukan program One Gate System dan pemasangan CCTV. Permukiman yang saat ini telah tertata dengan baik akan ditata dengan konsep budaya,” ujar Dedi.

Ia menilai penataan permukiman tidak semata-mata berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga perlu memperhatikan karakter dan budaya masyarakat setempat agar lingkungan tetap nyaman sekaligus memiliki identitas.

Hidupkan Kembali Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya

Selain pembangunan fisik dan ekonomi, Dedi ingin menghidupkan kembali tradisi Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya. Tradisi tersebut dinilai memiliki nilai sosial dan budaya yang dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Dedi menyebut Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya mulai ditinggalkan sehingga perlu kembali digelar sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi lokal.

“Budaya Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya merupakan budaya Desa Jatimulya yang saat ini mulai dilupakan. Akan kembali digelar karena merupakan budaya yang memperkuat silaturahmi warga dan ucapan syukur kepada Allah atas hasil bumi,” katanya.

Menurut Dedi, pelaksanaan Ruwat Bumi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari konsep desa wisata. Kegiatan budaya tersebut dinilai berpotensi menarik masyarakat dari luar desa sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi warga.

“Ruwat Bumi juga berpotensi menjadi bagian dari program desa wisata yang mampu menyedot minat masyarakat dan menggerakkan ekonomi,” ujarnya.

Tegaskan Komitmen Tanpa Politik Uang

Gagasan terakhir Dedi berkaitan dengan proses pemilihan kepala desa. Ia menyatakan komitmen untuk tidak menggunakan politik uang dalam memperoleh dukungan masyarakat.

Dedi berharap warga dapat menentukan pilihan berdasarkan gagasan, rekam jejak, dan kemampuan calon dalam menjawab persoalan desa.

“Jangan sampai pilihan masyarakat ditentukan karena uang. Saya ingin masyarakat memilih berdasarkan gagasan dan kepercayaan,” tegasnya.

Dedi berharap kontestasi Pilkades Jatimulya tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan desa.

Menurut dia, pembangunan Jatimulya perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pembangunan fisik. Penguatan pertanian, perlindungan ekonomi masyarakat, keamanan lingkungan, pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan peningkatan konektivitas dinilai perlu berjalan beriringan untuk meningkatkan kesejahteraan warga. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *